Desakan menuntut pertanggungjawaban Israel atas serangan mereka terhadap misi kemanusiaan di Jalur Gaza makin menguat. Sejumlah negara bahkan menuntut Israel diseret ke Pengadilan Kejahatan Internasional (ICC).
Perdana Menteri Malaysia Najib Razak mengutuk Israel sebagai "penjahat dunia". Dia juga menyatakan, negara Yahudi itu harus diseret ICC atas serangan mereka itu. "Malaysia akan mendesak Dewan Keamanan PBB agar menangani tindakan-tindakan agresif Israel dan menyeret mereka yang melakukan kejahatan brutal itu ke Pengadilan Kejahatan Internasional," kata Najib pada sidang parlemen, Senin. Senada, Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan juga berikrar akan memaksa Israel agar bertanggung jawab atas "teror" di Timur Tengah. Sedangkan Prancis dan Inggris menyerukan penyelidikan internasional atas serangan terhadap misi kemanusiaan ke Gaza. Dalam satu mosi yang mengutuk serangan Israel terhadap kapal bantuan kemanusiaan yang menewaskan belasan aktivis Turki, Najib Razak menyeru Amerika Serikat (AS) agar menekan Israel supaya bertanggung jawab atas tindakannya itu. "Pasukan komando Israel menembak langsung para aktivis Turki yang pro Palestina, bahkan dari belakang. Ini merupakan tindakan pengecut yang tidak dapat dimaafkan," katanya. Najib juga mendesak Israel membayar uang ganti rugi atas perampasan bantuan kemanusiaan dan trauma psikologis, emosional, dan fisik yang dihadapi para aktivis misi kemanusiaan. Recep Tayyip Erdogan juga tegas mengecam serangan Israel ini. "Gaza adalah peristiwa bersejarah bagi kami," katanya dalam pidato di hadapan massa di Bursa, yang beberapa bagiannya disiarkan saluran berita CNN Turki. "Sasaran kami adalah mereka yang memaksa warga Gaza hidup dalam penjara di udara terbuka. Kami akan tetap bertahan sampai blokade terhadap Gaza dicabut, pembantaian mereda, dan teror negara di Timur Tengah harus dipertanggungjawabkan," katanya menambahkan. Turki telah memanggil duta besarnya untuk Tel Aviv dan membatalkan latihan militer gabungan setelah serangan pekan lalu. Turki juga menuntut permintaan maaf secara resmi dari Israel.Israel sendiri absen dari keikutsertaannya pada latihan kekuatan udara internasional yang menurut militer Turki digelar di Turki tengah, 7-18 Juni, yang diikuti pesawat tempur Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, Italia, Spanyol, dan NATO. Ankara juga menyerukan dilakukannya penyelidikan independen internasional terhadap serangan itu, yang menurut Erdogan telah dibahas dengan Sekjen PBB Ban Ki-moon dalam percakapan melalui telepon, Sabtu. Di Ankara, sekitar 6.000 sampai 7.000 orang berkumpul di bawah guyuran hujan. Mereka meneriakkan, "Israel Terkutuk! Israel Pembunuh, minggat dari Timur Tengah!" Beberapa pemrotes membakar gambar Netanyahu, sedangkan pada poster-poster dia digambarkan sebagai perompak dengan pengait di tangan disertai tulisan: "Armada Kemanusiaan Lawan Perompak." Di Istanbul, sekitar seribu orang menyeru pemerintah mengusir para diplomat Israel. Di Marokko, polisi mengatakan bahwa sekitar 35.000 orang, termasuk menteri-menteri pemerintah, mengadakan aksi protes di ibu kota Rabat. Dalam aksi itu, mereka menginjak-injak bendera Israel. Di Lebanon, ratusan anggota sayap kiri membakar bendera Israel dalam demonstrasi di dekat kedutaan AS. Sedangkan sekitar 3.500 orang, kebanyakan mengenakan ikat kepala Palestina, berunjuk rasa di kota Prancis utara, Lille. Di Paris, Menlu Prancis dan Inggris menyatakan penyelidikan internasional diperlukan untuk menyelesaikan sengketa mengenai serangan mematikan militer Israel terhadap kapal pengangkut bantuan kemanusiaan Gaza. "Kami pikir itu sangat penting bahwa perlu ada satu investigasi yang transparan dan layak dipercaya. Kami percaya harus ada kehadiran internasional, paling tidak dalam penyelidikan atau investigasi itu," kata Menlu Inggris William Hague usai berunding dengan timpalannya, Menlu Prancis Bernard Kouchner. Sementara itu, pasukan Israel menembak mati empat pejuang Palestina di perairan lepas pantai Gaza, Senin. Saksi mata Palestina mengatakan, mereka melihat beberapa helikopter Israel dan pasukan angkatan lautnya menembaki sebuah kapal di lepas pantai Nusseirat, Gaza City Selatan, sekitar pukul 04.00 waktu setempat. Dua jam kemudian, menurut sumber medis dan saksi mata, empat jenazah yang mengenakan pakaian selam ditarik dari laut dan dibawa ke rumah sakit. Pencarian kini sedang dilakukan untuk menemukan dua orang lagi yang diduga melarikan diri akibat serangan serdadu Israel tersebut. Pihak militer Israel sendiri mengatakan, sepasukan angkatan laut di daerah itu menyerang sebuah kapal yang mereka tuding membawa sekelompok teroris yang mengenakan pakaian selam dalam perjalanan melakukan serangan teror. Berbicara dengan AFP, seorang yang selamat bernama Abu Al Walid mengatakan, tujuh orang tak bersenjata berada di kapal itu. Semuanya berasal dari Brigade Sahid Al-Aqsa, kelompok yang dekat dengan gerakan Fatah pimpinan Presiden Palestina Mahmud Abbas. "Kami sedang melakukan beberapa latihan rutin di sepanjang pantai Gaza," katanya. "Pagi sekali, kami dikejutkan oleh belasan kapal angkatan laut yang melepaskan tembakan dan mulai mengebom kami. Empat dari orang kami tewas, dua di antara kami melarikan diri dan seorang hingga kini masing hilang," Sementara itu, lima dari 12 relawan Indonesia untuk Gaza tiba di Jakarta, Senin, dengan penerbangan dari Amman, Yordania, dan Istanbul, Turki. Mereka adalah Ferry Nur, Muhendri Muchtar, Hardjito Warno, dan wartawan TvOne Muhammad Yasin. Seorang relawan lain, Okvianto Baharuddin, juga akan kembali dengan penerbangan dari Istanbul, Turki, tempat dia dirawat setelah lengannya luka ditembak pasukan komando Israel. Seorang relawan, yang juga luka tembak, Surya Fahrizal, saat ini masih dirawat di Amman, Yordania, setelah dipindahkan dari rumah sakit Ramban di Haifa, Israel. Surya masih dalam kondisi pemulihan pascaoperasi dan dijadwalkan menyusul rekan-rekannya kembali ke Jakarta setelah stabil